Balita Masih Juga Ngompol

 

15 dari 100 anak balita yang mengompol, berhenti sendiri secara alami tanpa  bantuan terapi atau obat apa pun. Bila sewaktu kecil Anda mengalami masalah ngompol, maka sekitar 40% kemungkinan anak Anda mengalami hal yang sama. Bila Anda berdua sama-sama pernah mengalami masalah ngompol, angka kemungkinan itu menjadi sekitar 70%.

Pada umur 2 tahun, umumnya anak-anak sudah tidak mengompol di kala tidur siang hari, tapi kadang-kadang masih mengompol pada malam hari. Pada umur 3 tahun, tiga dari empat anak sudah tidak mengompol pada malam hari. Bagaimana bila Balita Anda masih sering ngompol? Ada beberapa penyebab:
  • Mengalami keterlambatan proses pematangan sistem saraf. Pada sebagian anak, perkembangan metabolisme yang melibatkan sistem saraf pusat, otot-otot pengontrol kembang-kempis kandung kemih, dan kemampuan otaknya untuk memberi perintah ”bangun” kepada tubuh saat kandung kemih penuh, berjalan lebih lambat.
  • Anak tidur sangat nyenyak (deep sleep). Banyak orangtua mengeluhkan anak mereka yang sangat sulit dibangunkan dari tidur. Ini salah satu ciri khas anak-anak yang mengalami masalah mengompol.
Coba kita terapkan cara-cara berikut:  
  1. Bersikap sewajar. Jangan jengkel, marah, atau panik. Bukahkah ia ngompol  tanpa sengaja? Proses perkembangan kemampuan mengontrol fungsi kerja kandung kemih ini memang butuh waktu dan kesabaran. Namun, bukan berarti Anda boleh mengganggapnya hal biasa. Ajak si kecil membantu Anda mengganti sepreinya atau membersihkan bekas ompolnya. Setelah itu, cari kesempatan untuk membicarakan masalah ini tanpa menyalahkannya.
  2. Bangun rasa percaya diri anak. Selain tidak menyalahkan, apalagi sampai mempermalukannya di depan orang lain, beri pemahaman bahwa dia bukan satu-satunya anak yang masih mengompol. Kalau salah satu dari Anda kebetulan pernah mengalami hal yang sama sewaktu kecil, katakan padanya. Dengan demikian, anak tidak merasa hanya dia yang melakukan 'kesalahan' itu.
  3. Bantu anak belajar untuk yakin bahwa dia bisa berhenti mengompol. Bantu dia mengajaknya ke kamar mandi dan membuka celananya. Lakukan setelah anak minum susu, atau sebelum dan sesudah tidur. Bahkan, jika anak bangun tidur dan mengompol, ajak dia ke kamar mandi untuk BAK lagi atau sekadar membersihkan badannya. Lakukan secara konsisten. Namun, sebaiknya Anda tidak membangunkan anak di malam hari untuk ke toilet, karena tidak memberi dia kesempatan belajar kontrol BAK atas kesadarannya sendiri.
  4. Ciptakan sarana yang mendukung proses belajar, misalnya dengan menambahkan alas duduk khusus untuk anak-anak pada dudukan kloset, dan memberi penerangan yang memadai di sepanjang jalan dari kamar tidur ke kamar mandi.
  5. Beri pujian atau hadiah bila anak tidak ngompol agar dia semakin termotivasi  mengatasi masalahnya. Hadiah bisa berupa sekadar memeluk dan menciumnya sampai mengajaknya jalan-jalan ke tempat bermain favoritnya.
  6. Tanamkan kebiasaan baru, seperti:
  • Lebih banyak minum pada siang hari. Namun, jangan menyuruhnya mengurangi minum pada malam hari. Selain tidak membantu mengatasi masalah mengompol, si kecil juga harus tetap cukup minum.
  • Menghindari makanan yang banyak mengandung garam atau teh, terutama menjelang tidur malam. Selain tidak baik untuk kesehatan, jenis makanan atau minuman ini bisa merangsang keinginan untuk BAK.
  • Membatasi penggunaan popok sekali pakai, misalnya hanya sepanjang perjalanan atau keluar rumah dalam waktu relatif lama. Memang popok jenis ini mempermudah orangtua demi kebersihan dan kesehatan, namun membuat gerak anak terbatas dan dia akan terbiasa BAK kapan saja dan di mana saja.  
Ke Dokter bila:
  • Ngompol lagi setelah berhenti minimal 6 bulan. Ini dinamakan ngompol sekunder. Istilah ngompol primer diberikan pada anak yang sejak lahir hingga usia 5 atau 6 tahun masih ngompol, dan belum pernah “kering” minimal 6 bulan. Pada ngompol sekunder, kadang-kadang diperlukan pemeriksaan radiologi dan laboratorium yang lebih lengkap daripada ngompol primer.
  • Mengeluhkan ada rasa panas atau sakit saat BAK Siapa tahu dia mengalami infeksi saluran kemih.
  • Makan atau minum lebih banyak dari biasanya disertai sering pipis. Gejala ini biasanya dikaitkan dengan gangguan metabolisme, yakni kencing manis usia dini.


 



Artikel Rekomendasi