Melasma Muncul saat Hamil, Bunda Harus Apa?

 


Kehamilan mengubah banyak aspek dalam kehidupan seorang wanita. Baik itu secara fisik maupun psikis, semua perubahan ini memang terasa mendebarkan sekaligus membahagiakan. Namun di sisi lain bisa membuat Bunda merasa tidak nyaman. Misalnya saja beberapa masalah kulit yang mendadak muncul seperti, jerawat, stretch marks, dan yang tidak bisa dilewatkan, yaitu melasma.

Melasma merupakan kelainan pigmen pada kulit berupa bercak berwarna kecokelatan yang disebabkan oleh gangguan pada sistem pigmentasi kulit. Kata melasma ini sendiri berasal dari Bahasa Yunani yaitu “melas” yang berarti warna hitam.

Berdasarkan distribusi lesinya, secara klinis melasma dibagi menjadi 3 tipe. Pertama adalah tipe yang dialami oleh 65% masyarakat dan merupakan tipe yang paling sering ditemukan yaitu sentrofasial, kedua adalah tipe malar (20%), dan yang ketiga adalah tipe mandibular (15%).

Penyebab timbulnya melasma
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. Arini Astasari Widodo, SpKK, mengungkapkan bahwa kasus melasma pada kulit Ibu hamil disebabkan oleh kondisi hormon yang tidak seimbang. Namun, pada beberapa kasus, bercak kecokelatan ini akan hilang dengan sendirinya usai persalinan.

Selain kehamilan, ia juga menyebutkan bahwa pemakaian kontrasepsi oral yang mengandung estrogen juga bisa menjadi faktor lain yang dapat memicu timbulnya melasma.

Dikarenakan estrogen dapat memengaruhi sel melanosit atau sel yang menghasilkan pigmen. Estrogen juga dapat meningkatkan ekspresi berbagai sinyal melanosit dan sel kulit (keratinosit) yang menyebabkan peningkatan pigmen dan transfer pigmen ke kulit.

“Sekitar 40-50% pasien perempuan dengan melasma disebabkan oleh Kehamilan dan penggunaan kontrasepsi oral. Kemudian 8-34% kasus melasma lainnya ditemukan pada perempuan dengan terapi sulih hormon” katanya.

Faktor yang memicu timbulnya melasma
Banyak faktor yang dapat memicu timbulnya melasma baik dari dalam maupun luar tubuh. Diantaranya, faktor keturunan, paparan sinar ultraviolet (UV), pengaruh hormonal, kehamilan, penggunaan kosmetik tertentu, mengonsumsi obat-obatan tertentu, dan stres berlebihan.

Dr. Arini juga menjelaskan bahwa melasma lebih rentan muncul pada tipe kulit IV-VI, yaitu kulit sawo matang sampai gelap. Terutama pada kelompok individu dengan pigmentasi kulit yang lebih tinggi, seperti di Asia Timur, Asia Tengah, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika-Mediterania.

Perawatan untuk menghilangkan melasma
“Pigmentasi melasma dapat hilang dengan pengobatan, tetapi bisa kambuh lagi. Oleh karena itu Anda wajib merawat kulit dengan menghindari faktor pemicu melasma yang telah disebutkan sebelumnya,” Kata Arini.

Agar warna kulit lebih merata, Bunda disarankan untuk menghindari paparan matahari secara berlebihan dengan mengaplikasikan tabir surya secara berulang. Sebagai perlindungan tambahan, gunakan topi dan kacamata bila hendak beraktivitas di luar ruangan.

Pemulihan melasma juga bisa dibantu dengan krim kulit yang telah diresepkan oleh dokter dan tindakan di klinik berupa, peeling, laser, dan lainnya.

“Melasma timbul tanpa gejala, jika orang tua Anda memiliki riwayat, maka harus waspada bisa menurun. Beberapa krim dengan kandungan glycolic acid, azeleic acod dan tindakan dokter tertentu untuk menghilangkan melasma boleh dilakukan saat hamil. Konsultasi dulu, nanti dokternya yang akan menentukan,” katanya. 

Konsultasi: dr. Arini Astasari Widodo, SpKK
Instagram: @dermatologistjakarta

 
Baca juga:
Berbagai masalah kulit ibu hamil

Kulit melar itu bernama stretch mark
Bumil juga perlu vaksinasi

Debbyani Nurinda

 



Artikel Rekomendasi