Pengasuhan Berkualitas Anak Indonesia di Masa Pandemi

 

 
foto dok. SOS Children's Villages


Sudah setahun pandemi Covid-19 terjadi. Walaupun vaksinasi sudah mulai dilakukan, pandemi belum usai dalam waktu dekat. Berbagai tantangan masih harus kita hadapi, termasuk masalah anak dan remaja yang rentan terlantar, terancam kehilangan pengasuhan orang tua, juga terkendala proses belajarnya.

Dinar Wukirsari, S.Psi., M.Psi, Psikolog Pendidikan, mengungkap aspek sosial dan emosi anak akan terpengaruh dalam masa pandemi ini. Anak harus sekolah secara daring, tidak bisa berinteraksi langsung dengan guru dan teman-teman. Bagi anak-anak yang baru mulai sekolah, akan sulit menjalin pertemanan. “Kondisi ini menyebabkan low motivation, anak tidak mau sekolah, karena tidak ketemu teman. Anak-anak pada dasarnya senang main. Tujuan ke sekolah bukan belajar, tapi main,” kata Dinar.

Jika tidak difasilitasi, kata Dinar, ini akan berdampak secara psikologis, seperti perasaan kesepian, tidak berdaya, tidak tahu mau apa. Karena anak bergantung pada orang tua atau dewasa di sekitarnya, maka penting bagi kita untuk membereskan diri kita dulu. “Orang tua perlu menerima dulu kondisi pandemi, dengan demikian mudah melakukan pengasuhan pada anak. Kalau kita depresi, bagaimana anak kita? Anak-anak membutuhkan perhatian lebih di masa pandemi ini,” kata Dinar.

Sementara itu, Rohika Kurniadi Sari dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak Republik Indonesia mengungkap bahwa pengasuhan berbasis hak anak sebenarnya sudah memiliki payung hukum. “Negara juga memberikan akses terdekat supaya orang tua mampu mengasuh sesuai hak anak. Kami ada konseling di pusat pembelajaran keluarga. Tidak mudah membangun layanan ini, karena tidak ada sekolah menjadi orang tua,” kata Rohika. 

 
foto dok. SOS Children's Villages


Tantangan pengasuhan anak di masa pandemi dirasakan oleh SOS Children’s Villages Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada pengasuhan alternatif dan penguatan keluarga rentan. “Kami percaya pentingnya pengasuhan berkualitas. SOS mencoba dengan memberikan keluarga pengganti bagi anak-anak yang kehilangan pengasuhan orang tuanya. Ada 150 pengsuh yang mendampingi anak-anak tersebut. Tiap pengasuh bertanggung jawab terhadap 6-8 anak. Stres muncul (di masa pandemi). Karena anak-anak masih harus beradaptasi, sementara ibu (pengasuh) harus mampu multiperan,” ungkap Gregor Hadi Nitihardjo, National Director SOS Children’s Villages Indonesia 

Greg bercerita bagaimana ibu-ibu pengasuh harus menjadi bumper supaya anak-anak tidak ketakutan saat mendapat berbagai informasi luar biasa dari media sosial. Belum lagi harus memastikan kesehatan anak-anak asuhan. “Kesehatan itu perkara disiplin, karena anak-anak biasa bermain bersama, berpelukan, tapi sekarang tidak bebas. Ibu juga harus menjadi guru segala pelajaran dan kelas, harus belajar teknologi. Ibu harus sehat fisik dan mental, belum lagi harus memastikan makanan mereka higienis,” kata Greg.

 
foto dok. SOS Children's Villages


Menyadari pentingnya keberlangsungan pendidikan, pengasuhan, dan masa depan anak-anak, PT Bank HSBC Indonesia memberikan dukungan bagi SOS. Hal ini disampaikan Nuni Sutyoko, SPV Head of Corporate Sustainability PT Bank HSBC Indonesia dalam acara Kick Off Program 2021 HSBC Indonesia Bersama SOS Children's Villages Indonesia. “Komitmen HSBC adalah mendukung pendidikan dan future skills anak-anak. Pendidikan kunci kesuksesan bangsa dan dunia, anak-anak harus disiapkan karena mereka adalah pemimpin masa depan. Harus dipikirkan masa depan mereka, karena kondisi dunia kerja berubah terus, teknologi semakin tinggi, keterampilan apa yang diperlukan dengan banyaknya perubahan,” kata Nuni.

Di akhir acara, Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia François De Maricourt mengatakan, “Sejak lama HSBC memberikan dukungan di bidang edukasi di seluruh dunia, terutama dalam membantu generasi muda yang kurang beruntung mengakses pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Program ini adalah bagian dari fokus penting dalam strategi keberlanjutan kami untuk membangun keterampilan masa depan bagi masyarakat di tempat kami berada, untuk membuka dunia yang penuh peluang.”
 
(grc)
 
 

 

 


Topic

#corona #coronavirus #viruscorona #covid19 #dirumahsaja #dirumahaja #belajardirumah #workfromhome #vaksin #vaksincovid19 #sinovac



Artikel Rekomendasi